KAPAN KITA BERTAUBAT?
Oleh Pimpinan Pondok Modern Darunna'im
Dalam hal ini Allah menegaskan dan memerintahkan dalam Al-Qur'an yang artinya :"Hai Orang-orang yang beriman Taubat-lah kalian kepada Allah sebenar-benarnya kalian bertaubat". Seorang ulama besar Hasan Al-Basori Berpendapat tentang arti taubat nasuha, yaitu sebuah penyesalan yang muncul dalam hati dan permohonan maaf yang terlantar dari lisan atau tekad yang kuat untuk tidak mengulangi lagi dosa yang sama.
Nabi Muhammad saw bersabda "Tak ada ucapan yang lebih Allah rindukan selain suara lirih dari seorang hamba yang berdosa, dan memohon ampun kepada Allah".
Dalam kita menjalani kehidupan, kadang kerikil tajam sering kita jumpai, menggangu dan menggoda lalu tak ayal melukai perjalanan hidup ini dalam keadaan senang kita tidak luput dari goda dan rayu setan, yang sering mengganggu kita, atau tak perlu mengkambing hitamkan setan, karena memang sifat kita yang gampang lupa akan nasehat dan peringatan, sehingga dengan kesendiriannya gampang dan mudah terperosok dalam hal yang terlarang, itulah manusia sebuah panggilan yang terbagi dari dua kata "Man dan Nasiya" yang mempunyai arti Makhluk Allah yang gampang melupakan sesuatu, Banyak hal yang harus dilakukan oleh seorang hamba yang berkecukupan harta, leluasa untuk bertindak dan bertaubat kebaikan, terlebih perbuatan-perbuatan yang terlarang (dosa), karena pasilitas pendukung yang tersedia. coba kita renungi :"Dengan harta yang Allah Berikan kepada kita, hal-hal kebaikan yang sering dan banyak kita perbuat? atau sebaliknya? kalau keburukan yang sering kita perbuat, setelah kenikmatan yang Allah berikan kepada kita, lalu kapan kita Bertaubat?".
Pembaca yang budiman...!!! Jangan sampai kepercayaan Allah kepada kita luntur, lalu kenikmatan yang kita dapati. Allah Ambil Kembali, padahal kita seorang hamba yang selalu keluh resah ketika dalam keadaan susah payah, ini jelas tertuang dalam Al-Qur'an surat Al-Ma'rij 19-20 yang artinya : "Sesungguhnya manusia diciptakan selalu berkeluh kesah lagi kalau apabila di timpa kesusahan ia berkeluh kesah" (Al-Ma'rij 19:20).
Seorang hamba yang berkecukupan dan berkekurangan tak luput juga dari godaan dan cobaan hidup serba berkekurangan itu sendiri termasuk ujian tuhan yang mesti dijalani dengan penuh kesabaran dalam menjalani hidup seperti itu akan banyak menimbulkan sifat kufur, dan menyalahkan tuhan, dan padahal kalau sihamba menyadari hakekat Allah Sebagai Penciptanya dia maha tahu akan kelebihan dan kekurangan yang diciptakannya. Sifat Rohman dan Rohim yang disandang Allah swt. itu saja sudah membuktikan bahwa kasih dan sayang Allah kepada hamba jauh melebihi kebenciannya kepada hamba yang selalu berbuat salah. tetapi lagi-lagi itulah manusia, yang selalu lupa akan kebaikan timbul kecewa yang berlebihan kenapa saya miskin?, apa tuhan tidak sayang kepada saya? atau tuhan tidak peduli dengan saya? kenapa tuhan menciptakan saya yang cacat? apa karena tuhan benci saya? dan masih banyak ucapan-ucapan yang penuh kecewa dan emosi yang ditunjukan kepada Allah swt. padahal Allah jauh dari apa yang hamba sangka.
Lalu kapan kita bertaubat dari prasangka buruk itu? dari prasangka buruk itu, padahal belum tentu kalau kita menjadi hamba yang berkecukupan akan berbuat seperti apa yang kita bayangkan sebelumnya. kalau saya kaya, akan banyak membantu orang, akan banyak mengabdi dan beribadah kepada Allah, dan kalau saya sehat akan banyak begini dan begitu, belum tentu....!!! itu semua hayalan dari hati yang penuh kecewa terhadap keadaan. bukankah manusia memiliki sifat kikir ketika berkecukupan... iya?...... ketika manusia diberikan karunia yang lebih ia akan kikir terhadap dirinya, lingkungannya dan bahkan terhadap tuhan yang memberinya. kikir akan harta, kikir akan perasaan dan kikir akan waktu dan kesempatan : celakalah si hamba!!! dia akan selalu beralasan capek dan tidak ada waktu untuk beribadah, sekalipun ada jauh dari kesempatan yang ia miliki untuk mengumpul harta. jika ada yang memohon dan meminta dia akan beralasan tak ada karena dengan segala prasangka bahwa dialah yang capek mengumpulkan harta-harta sekalipun ada memberi. paling sisa harta yang ia punyai, sifat ini Allah pertegas dalam Al-Qur'an yang artinya :"Apa bila ia mendapat kebaikan ia amat kikir".
Lalu kapan kita bertaubat? dari sifat kikir yang kita punyai, bencana demi bencana tak henti datang silih berganti beribu nyawa melayang, beribu jiwa dan raga terluka inikah peristiwa alam yang tak sengaja? atau apa inikah musibah alam biasa? kalau memang ini peristiwa biasa kenapa pula mesti banyak jiwa yang menangis dan hati yang terluka. wahai kekasih Allah, bukan!! ini bukan peristiwa biasa, ini musibah dan peristiwa untuk nasehat dan pelajaran buat kita yang masih terjaga jangan kita lalai dan lengah dan menganggap ini peristiwa alam biasa. masih akan banyak bencana menjumpai kita, semua yang kita buat, akan menuai hasil apa yang kita perbuat dan menanggung baik buruk yang kita buat tak ada tempat untuk kita lari dan bersembunyi selain berdo'a dan bertaubat.
Ya Allah....!!! jangan engkau siksa kami dari dosa yang sengaja atau lupa yang kami perbuat, Ya Allah...!!! jangan pula engkau bebani kami dari beban berat sebagaimana kau bebankan kepada pendahulu kami, begitu pula Ya Allah, kiranya janganlah engkau bebani kami dari beban yang tak dapat kami pikul dalam hidup ini, Ya Allah...!!! ampunilah kami dan rahmatilah kami serta tolonglah kami dari akibat perbuatan kafir yang akan menimpa kami dan Ya Allah, terimalah ampunan dan taubat kami karena engkaulah penerima ampunan dan taubat kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar